Ramadhan dan Corona

Beberapa hari yang lalu, temen gw @rezarowi men tag gw sebuah tulisan dan menyuruh gw untuk mencoba untuk menulis, “Pak, nulis kuy" – serunya, gw menjawab “aduh pak, sekarang diotak gw lagi cuan doang”, dia pun menjawab “ ya gak apa apa, dari keresahan itu lebih baik”, gw pun menutup percakapan dengan balasan “oke pak, nanti dah”, memang disaat itu diotak gw hanya cuan, gimana gak khawatir. Baca berita, cek sosmed isinya tentang PHK, dirumahkan, dan hiring dicancel, panik? khawatir? Tapi semua itu coba ditutup dengan apdetan IG yg penuh kebahagiaan, kebanyolan dan keindahan estetika ala sosmed.
Gw gak bisa bayangin gimana bulan ramadhan harus kita lewati dengan berbagai larangan/himbauan diatas. Kebiasaan kebiasaan yang biasa kita lakukan di bulan ramadhan ditiadakan. Contoh tarawih, Kita terancam tidak akan mendengar suara bocah teriak teriak memanggil temannya untuk buru buru ke mesjid, dimesjid bukan solat malah bercanda sambil bawa cilok dengan baju basah kuyup karena keringat, Ibu- Ibu yang riweuh minta tempat sholat dibelakang, pemuda pemuda yang bawa sarung bukan buat solat malah perang sarung, fakboi gang yang mengintai para gadis yang tidak terpantau sebelumnya dan muncul saat tarawih (Itu gw) , suara “AMIN” bocah yang nyaring , belum lagi liat bapak bapak pas rakaat keempat udah pulang sambil ngomong “ah bete, pulang ah”.Pas sahur kita tidak bisa mendengarkan suara bocah keliling bawa bedug dan kaleng. Abis dapet thr , janjian sama temen buat beli baju lebaran di bloop sambil buka bersama, karena resto banyak yg full, akhirnya buka di warteg warmo.  Belum sore hari saat menunggu waktu berbuka, melihat wajah penuh harap pedagang gorengan, es buah dan pedagang lainnya. Pemuda mesjid yang lebih sibuk dari biasanya karena jadi zakat keeper, jalanan yang lebih macet karena ngabuburit. Saat bukber, kita tidak bisa buka bersama dari kantor yang penuh seremonial dan kemewahan dengan foto candid ala ala, jangan lupa apdet ig dengan tag lokasi berbuka (yg biasanya diadakan di Hotel, wah auto like ig banyak). Buka bersama dengan teman sejawat, yg diawali dengan perdebatan “mau bukber dimana”, gak ada yg respon, yg respon balesnya “terserah lu”  atau “gw sih kuy”, bukber dengan tema menceritakan achievement masing masing tanpa disuruh, dengan awalan “gw sih dikantor begini”, dibalas sama yang satu “iya sih, kalo gw sih dikantor dapet ini”, teman yang belum meraih pun menjadi insecure dan berkata (aaarrrggghh aku hina – dengan nada coki pardede) dan pertanyaan berbahaya “KAPAN LU NIKAH” selalu menghiasi momen perjumpaan, buka bersama yang sering melewatkan sholat maghrib seperti sahabat senja yang sore malah minum kopi. SOTR dengan tema “Berbagi dengan sesama” tapi panitianya pas abis sholat subuh tetep ngopi sama ngerokok. Wah indah sekali bulan ramadhan ini.
Tanpa kita sadari moment moment diatas kembali mengingatkan kita akan serunya bulan ramadhan, semoga dengan peristiwa ini (Pandemi Corona), bisa membuat kita sadar dan berusaha menjadi lebih baik, diluar dari moment moment mengharukan yang terjadi juga disaat bulan ramadhan.
Ya inilah tulisan gw , terima kasih buat challenge-nya pak @rezarowi, mohon jangan emosi

Komentar

Postingan Populer